Senin, 06 Oktober 2014

 00.12      , ,    2 comments


Pello Koning
Oleh:Elok Andriani

SMA Annuqayah Putri
 (Juara 3 Lomba Cerpen SMA/Sederajat Se-Madura oleh UKMFS SEFiS UTM)

Yang optimis akan berkata: “Terima kasih, akan saya coba” Tapi yang pesimis akan bilang: “Ah, tak semudah itu”
(Mario Teguh)
Aku percaya modal utama keberhasilan adalah keberanian. Orang bisa melangkah tanpa modal, tapi tidak bisa melangkah tanpa keberanian. Diakui atau tidak hanya segelintir orang yang mengandalkan keberanian. Banyak yang mengira bahwa modal merupakan hal yang harus diprioritaskan. Sama halnya seperti ocehan yang sering kudengar dari orang-orang yang tak menyukai usahaku. Ya, kuakui memang miskin.
Walau tak tahu nasib seperti apa yang akan ditemui setelah lulus nanti, namun aku tak mengkhawatirkan masa depan. Semua orang berhak mendapatkan kelayakan hidup. Mulai dari pendidikan, ekonomia, kesenangan, kedamaian, atau yang lainnya. Usaha dan do’a merupakan senjata yang harus dimiliki setiap orang. Pun satu-kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Karena pada dasarnya do’a tanpa usaha bohong dan usaha tanpa do’a sombong. Tidak akan mendapatkan keberkahan lebih tepatnya. 
Sebagai anak kelas III SD aku sudah mengemban pekerjaan yang biasa dilakukan orang dewasa. Sebagai loper koran. Jatah untuk bermainku tentu saja berkurang. Pekerjaan ini aku lakukan disamping meringankan beban orang tua juga untuk menambah biaya sekolah. Sejauh ini aku hidup belum pernah mengeluh dengan keadaan yang terbiasa mulai sejak kecil. Keterbatasan ekonomi tidak mengurangi kebersamaan dan keharmonisan keluarga kecil ini. Sedangkan ejekan itu kutepis dalam-dalam.
“Secara tidak langsung mereka menghina dirinya sendiri” begitulah biasanya bapak menasehatiku.
Walau tidak dalam bidang yang sama sepertiku, tapi pada bidang lain yang menjadi titik kelemahannya. Bisa jadi kemampuan beradaptasi minim, prestasi kurang  baik, kasih sayang orang tua kurang, atau karena yang lainnya.
Waktu terus berjalan hingga mengantarkanku pada cerita yang terjadi hari ini. Tepat ketika aku duduk di bangku SMK kelas akhir. Sudahlah, tinggalkan cerita yang terjadi enam tahun sebelumnya.
Satu pertanyaan yang menjadi inti dari permasalahan ini. Baiklah, aku tanya sekarang. Kau tahu Alex Mariar? Kukira pertanyaan ini tak sesulit mencari jarum dalam tumpukan jerami atau harapan ketika pungguk merindukan rembulan. Tapi bisa jadi hanya segelintir orang yang tahu. Aku sendiri juga baru tahu. Dari bapak aku mengenalnya (hanya cerita)
            Hari ini terdapat dua orang yang menjadi cerminanku. Sukses yang benar-benar dimulai dari nol. Orang yang telah disebutkan tadi (Alex Mariar) dan pak Anwar, salah satu tetangga yang berhasil mencapai impiannya. Sebagai tentara.
14 September 2012
Tepat ketika bapak beristirahat dari saka’an,[1] pak Anwar memberi informasi tentang kehebatan dan perjuangan Alex Mariar. “Alek Marier” bagitulah bapak menyebutnya. Ucapan seperti ini bisa dimaklumi karena bapak memang tidak pernah mengecap manisnya bangku pendidikan.
            Ya, Alex mariar. Remaja Kabupaten Manokwari Papua Barat yang berasal dari kelaurga miskin. Ayahnya kuli bangunan. Namun dia bisa melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi. Universitas Negeri Papua (Unipa).
“Mun ta’ keng bennyak dunnanya edimmah se eghebeye bejerennah pamarenta?” [2]Kalimat yang sering menusuk gendang telingaku. Mereka kira pendidikan hanya berlaku pada orang-orang atas saja. Bentuk pemikiran yang primitif. Sungguh kejam perkataan itu. Bukankah nasib juga bisa diubah dengan usaha dan do’a?
            Keadaan boleh seperti ini, tapi aku berjanji akan membuat orang tua tersenyum. Hari ini aku diremehkan, tapi ada waktunya Tuhan akan mengubah semuanya menjadi lebih baik. Semuanya akan indah pada waktunya. Aku tidak ingin dunia menertawakanku hanya karena tidak kuat menahan cemoohan yang datang silih berganti. Hidup ini bukan seperti air dalam gelas, diam tak bertambah atau berkurang. Tapi seperti musim yang berubah. Beginilah cara kehidupan bekerja, berlaku adil tanpa pandang bulu.
            Jika pak Anwar berhasil mengapa aku tidak? Aku tahu perjalanan hidupnya seperti apa. Siapa yang menyangka akan seperti yang aku lihat sekarang? Dari beliau aku mendapat motivasi .
“Kelas IV bapak sudah nyiram tembakau, metik jagung, metik cabe kalau hari sabtu, atau pekerjaan lain selama tenaga masih mampu. Itu bukan punya orang tua, tapi orang yang mencari bantuan tenaga dan bapak dapat upah. Mulai saat itu bapak tidak minta dibeliin baju lagi sampai sekarang. Sebisa mungkin bapak yang ngasih ke orang tua” begitulah ucapan yang entah keberapa kalinya pak Anwar katakan padaku.
            Tepat ketika sinar matahari berhasil mengeluarkan keringat dari pori-pori kulit, aku berdiri di aspalan. Lampu merah merupakan moment terpenting untuk menawarkan dua puluh koran yang sekarang ada di genggaman tangan kiri. Panas tidak seberapa jika dibandingkan dengan keinginan yang menggebu. Tidak putus sekolah. Titik.
Penghasilanku tidak seberapa. Jika dihitung tidak sebanding dengan lamanya berdiri. Ditambah lagi sebagian hasil yang harus kuberikan pada ibu. Ibu memang tak pernah meminta hasil kerjaku. Tapi aku sadar semua yang ada di rumah ini milik siapa. Milik bersama, kami.           
Koran yang kujual memang sudah banyak dikenal masyarakat. Sebagian rubrik di dalamnya memberi informasi berbagai kampus di Indonesia. Letak, fakultas yang diterapkan, biaya selama kuliah, maupun yang lainnya. Air mata yang sering tumpah melihat nama-nama perguruan tinggi itu bukan hal baru yang bapak temukan ketika melihatku.
Sebagai siswa kelas akhir tingkat SLTA, aku juga menginginkan untuk melanjutkan ke bangku pendidikan yang lebih tinggi. Kuliah. Biasanya para orang tua akan menanyakan kemana akan meneruskan sekolahnya. Namun ini berbeda denganku yang belum pernah ditanya akan melanjutkan ke mana. Tak perlu ditanya kenapa. Orang tua sangat ingin anak semata wayangnya juga seperti orang lain, tapi karena keuangan yang menjadi kendala, maka aku tak berani mengatakan langsung pada beliau. Begitupun dengan orang tua. 
Pak Anwar pernah bilang bahwa ibunya sampai menjual kasur dan perabot dapur ketika masuk semester III. Penghasilan beliau sebagai penjaga toko saat itu belum juga menutupi kekurangan yang ada. Tapi pak Anwar yakin, Tuhan akan menunjukkan kekuasaannya. Sesuatu yang diawali dengan niat baik akan menghasilkan yang bermanfaat pula. Ternyata benar. Malam harinya juragan cabe memberikan modal lima ratus ribu untuk memulai usaha.
            Lupakan hal ini sejenak dan beralih pada topik lain. Sebenarnya banyak jalan agar bisa keluar dari masalah ini. Salah satunya, ma’af bukan sombong. Bukankah nilaiku dari kelas X SMK bisa dikatakan baik? Kenapa aku tidak mencoba untuk daftar beasiswa, atau bidik misi seperti yang sering diperbincangkan teman?   
            Akupun berencana untuk menemui pak Anwar. Aku yakin beliau mau membantuku.
“Sudah berapa kali menang lomba selama tiga tahun dan lomba apa saja?” Tanya beliau
“Hanya dua lomba, Pak. Semuanya lomba menulis. Essay dan LKTI ”
            Aku tidak paham, kenapa ditanya berapa kali menang lomba?  
“Kalau pramuka ikut berapa kali?” lanjutnya
            Tambah bingung!!!
“Waktu SMK sudah tujuh kali” jawabku datar
“Kapanpun kamu sempat ke sini tolong sertifikat lomba dan pramukanya dibawa” pintanya
“Ya, Pak”
            Aku gontai berjalan. Asumsiku sudah menebak bahwa ini taktik untuk menghindar dari permintaanku. Akh… Segera kutepis pikiran buruk itu. “Tidak  mungkin” batinku.
            Dairi. Ya, aku harus bercerita langsung. Sekarang. Satu-satunya teman yang tak pernah menolak ceritaku. Namun, ketika membuka lembar kedua belas rasa ingin menulis itu hilang. Jadinya, bad mood[3]. Otakku memerintahkan untuk beralih pada buku motivasi bersampul merah. Buku yang didapat dari menulis artikel tingkat Kabupaten dua tahun lalu.
            Kubaca beberapa kata motivasi di dalamnya. Selama ini aku hanya mengartikan secara kontekstual, dan untuk menghibur diri aku mencoba menyelami maknanya sekarang. “Hadiah pertama bagi yang melakukan kebaikan adalah kebaikan pula.” Dari kalimat itu aku mengartikan bahwa niat baik yang ditanam akan berujung pada kenyataan yang tak hanya menjadi harapan.
            UN semakin dekat. Kesibukan belajar bukan pemandangan baru lagi sekarang. Begitupun denganku, juga menyempatkan dengan banyak buku yang dibawa sebelum berangkat ke tempat ini, (tempat menjual koran). Waktu kosong sebagai kesempatan belajar walau tanpa berkelompok.
Tiga minggu yang lalu UN sudah selesai. Teman-teman sibuk dengan sekolah yang hendak diambil selanjutnya. Ini berbeda denganku yang sampai detik ini belum tahu perkembangan bantuan yang kuminta pada pak Anwar. Putus asa sudah mau menderaku. Namun kuyakini bahwa ini jalan terbaik yang Tuhan berikan. Tidak kuliah tahun ini bukan berarti tidak akan terjadi tahun depan. Semoga bisa. Amien…
Cong[4], selamat. Kamu bisa kuliah sampai wisuda tanpa bayar” dating-datang pak Anwar langsung bicara seperti itu.
            Mengagetkanku, maksudnya apa? Bahkan belum daftar. Satu bulan lalu pak Anwar hanya memintaku membawa sertifikat yang berhasil diraih tiga tahun terakhir. Ada yang gak beres. Biarlah.
Aku menikmati panas ini dengan koran yang jumlahnya masih sama seperti biasanya. Dua puluh. Sambil menunggu lampu merah yang beberapa detik lagi akan menyala.
Cong, kamu dapat beasiswa. Ayo pulang dulu” aku hanya menoleh. Kedua alisku nyaris bertemu.
“Ada apa, Pak. Bercanda doang. Masih belum daftar kan? Uang juga belum mencukupi”
“Sertifikat loma nasional yang kamu dapat kemarin sudah bapak setor ke kampus yang mengadakan lomba itu. Sedangkan sertifikat pramukanya juga bapak setor ke kampus lain. Sudah ada dua perguruan tinggi yang menaunggumu, sekarang tinggal pilih”
“Apa? Tidak sedang bermasalah kan telingaku?”
            Aku tidak akan mencubit kedua pipi apakah sedang bermimpi atau berkhayal. Kurasa ini benar-benar terjadi hari ini. Tepat ketika dua menit lampu merah menyala dan aku membuang kesempatan menjual koran itu dan memilih mendengarkan informasi dari pak Anwar.
“Pak, beneran ya?” seraya mendekati pak Anwar yang hendak menyulit rokoknya.
“Ayo, Pak kita langsung pulang. Koran bisa dijual besok” lanjutku
Suatu hal yang mustahil terjadi akan terjawab “ya” jika sudah dikehendaki-Nya. Tak ada kesulitan tanpa hikmah yang tersimpan di dalamnya. Sekarang aku tahu bagaimana senanganya Alex Mariar ketika mendapat kesempatan kuliah tanpa bayar. Luar biasa.
Pak Anwar dan Alex Mariar terima kasih sudah memberikan gambaran bagaimana rasanya pengorabanan menuju harapan, impian, dan kenyataan. Tak mudah seperti membolak balikkan telapak tangan. Tak cukup satu dua tetas peluh untuk membuktikan bahwa jiwa tak sekecil keadaan yang terjadi. Juga tak gampang menepis sindiran yang sering dikatakan orang-orang sekitar. Sekarang bisa membuktikan bahwa aku juga layak duduk di bangku kuliah.
            Beraduk. Ya, rasa itu bercampur. Sudah tak bisa digambarkan seperti apa wajahku sekarang. Syukur berulang kali, senang, terharu, kaget, kurang percaya, dan entah apa lagi. Tapi… sujud syukur belum kukerjakan. Ah… dasar…!!! Ya, nanti setelah sampai di rumah, mengganti baju dengan yang suci, dan sesudah bersuci aku akan melakukannya. 
           


NB: Jangan remahkan orang-orang kecil. Semua diciptakan sama. Tugas kita sebagai kholifah hanyalah menebar kebaikan di muka bumi. Kebaikan yang dimaksud bukan hanya menitik beratkan pada kekayaan yang nyaris dianggap sempurna. Karena kaya belum tentu baik.
             




















[1] Dalam bahasa Madura yang mempunyai makna “membajak”
[2] Kalau tidak mempunyai banyak uang dari mana yang mau dijadikan bayaran pemerintah?
[3] Dalam bahas Inggrin memiliki makna “kemauan jelek”
[4] Panggilan pada naak laki-laki di Madura
Reaksi:

2 komentar:

  1. dịch vụ cưới trọn gói
    http://cuoihoihoanggia.vn/the-best-wedding-planner-in-vietnam/
    http://cuoihoihoanggia.vn/wedding-planner/
    http://cuoihoihoanggia.vn/dich-vu-to-chuc-dam-cuoi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/nghe-chuc-dam-cuoi-nghe-hanh-phuc/
    http://cuoihoihoanggia.vn/dia-diem-chuc-dam-cuoi-dep-va-chuyen-nghiep-o-ha-noi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/kinh-nghiem-chuc-dam-cuoi-ngoai-troi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/nen-thue-wedding-planner-hay-tu-chuan-bi-cuoi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/kinh-nghiem-chon-dich-vu-wedding-planner-chuyen-nghiep/
    http://cuoihoihoanggia.vn/dao-tao/
    http://cuoihoihoanggia.vn/wedding-planner-la-gi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/phong-sinh-nhat/
    http://cuoihoihoanggia.vn/thiet-ke-va-phong-tiec-dam-cuoi-dep-tai-ha-noi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/dich-vu/phong-cuoi-hoi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/trang-tri-phong-san-khau-tiec-cuoi-hoi-truong-dam-cuoi-dep-o-ha-noi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/trang-tri-phong-san-khau-tiec-cuoi-hoi-truong-dam-cuoi-dep-o-ha-noi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/mau-phong-cuoi-dep-lung-linh-lam-mua-lam-gio-nam-2015/
    http://cuoihoihoanggia.vn/cho-thue-ao-phu-ghe/
    http://cuoihoihoanggia.vn/dich-vu/cho-thue-ban-ghe-dam-cuoi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/dich-vu/backdrop-hoa-giay-cuoi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/tu-lam-backdrop-cuoi-bang-hoa-tuoi-chi-voi-3-buoc/
    http://cuoihoihoanggia.vn/dich-vu/nha-bat-dam-cuoi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/dich-vu/cong-hoa-cuoi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/dich-vu/trang-tri-cuoi-hoi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/dich-vu/trang-tri-cuoi-hoi/
    http://cuoihoihoanggia.vn/dich-vu/trang-tri-ban-reception/
    http://cuoihoihoanggia.vn/trang-tri-cau-thang-nha-ngay-cuoi/

    BalasHapus

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget