Rabu, 03 April 2013

 05.31      ,    No comments

In Memoriam of 14
Part II

     oleh : Srikandi SEFiS
           

            Bismillaahi ar-rahmaani ar-rahiimi.
            Jangan gunakan mata untuk membacanya!
            Tapi, gunakan hati untuk membacanya!



            # Pelepasan…

            Hari demi hari telah dilewati. Beribu rintangan telah dilalui. Berjuta hambatan telah disambangi. Tibalah kita semua untuk melepaskan diri. Dari sebuah tempat yang sudah memberikan banyak pelajaran dan kenangan yang berarti. Semua itu pasti terpatri dalam hati dan akan terngiang-ngiang dalam memori.
            Batik merah. Baju itulah yang kita kenakan ketika pelepasan santri. Batik merah yang dipadu padankan dengan bawahan hitam, menambah kesan ‘elegant’ pada tiap-tiap santri lulusan angkatan 14. Semuanya nampak senada. Indah.
            Para asatidz ikut menjadi saksi atas kebahagiaan kita. Dengan berbalut kain batik coklat, satu per satu asatidz memasuki aula. Kupandangi wajah satu per satu asatidz itu. Yaa Rabb, wajah inilah yang telah membantuku hingga mencapai titik ini. Wajah-wajah inilah yang mengantarkanku ke gerbang kehidupan yang sesungguhnya. Semoga tiap tetesan keringat yang luruh bersama rasa letih para asatidz dapat menjadi ‘amal jariyah bagi para asatidz kelak. Aamiin.
            Ketika tangan santri lulusan beradu dengan tangan para asatidz, haru biru pun membuncah di dada. Mata mulai berkaca-kaca. Air mata luruh seketika. Dan tak sengaja membentuk anak-anak air mata. Air mata bahagia, sedih, haru, bercampur jadi satu. Make-up yang dipersiapkan selama satu jam lebih pun luntur oleh genangan air mata.
            Belasan kamera mendokumentasikan setiap peristiwa yang terjadi di hari bersejarah itu. Pose-pose menarik, aneh, dan lucu itu terabadikan. Senyum yang membentuk seperti buah pisang muncul ketika melihat hasil foto itu. Dan tak sedikit dari foto itu yang menimbulkan gelak tawa.

            Hari yang begitu bersejarah..


*******

            # Dunia Baru…

            Malam telah sampai pada peraduannya. Bintang dan bulan bersua di tengah-tengah gemerlapnya alam semesta. Mereka selalu menepati janjinya yang akan selalu menerangi kehidupan manusia ketika kegelapan mulai menyelimuti dunia. Masih terekam jelas peristiwa-peristiwa pelepasan siang tadi. Peristiwa itu menimbulkan goresan-goresan tinta berwarna-warni bak pelangi.
            Dari timur, si bulat kuning perlahan mulai menampakkan dirinya. Bau basah embun-embun begitu menyeruak, karena semalam anak-anak hujan berlarian di tanah milik bumi. Mulai pagi ini, aku tak lagi menyandang status sebagai santri lagi. Almamater krem bukan kepunyaanku lagi. Khoas putih tak menjadi ciri khasku lagi.
            Kini aku dan semuanya harus menentukan langkah. Langkah untuk menapaki impian demi impian. Langkah yang akan menentukan apakah kita akan menjadi ‘orang’ atau tidak. Kita semua mengambil langkah yang berbeda-beda. Ada yang mengumpulkan pundi-pundi rezeki, ada yang mempersiapkan diri untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, dan ada juga yang bersiap untuk menapaki hidup bersama dengan kekasih hati lewat ikatan suci.
            (Alhamdulillaah, dua sahabat kita telah menemukan tambatan hatinya. Kini mereka tengah menjalin mahligai bahgia dalam ikatan suci pernikahan. Baarakallaah. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Aamiin.)

            Kini kita tengah memasuki dunia baru. Masing-masing kita mempunyai dunianya sendiri. Kini kita terpisah tempat, jarak, dan waktu. Meskipun diantara kita ada yang meneruskan hidup di luar kota, bahkan luar provinsi, tetapi kita masih bisa curi-curi waktu untuk bermuwajahah dan bershillaturrahiim. Meskipun tidak semuanya dapat hadir.
            Kudapati segelintir sahabat 14 dan berbincang-bincang hangat bersama mereka. Kita saling sharing tentang apa yang kita alami selama ini. Mendengar kisah-kisah mereka, aku menjadi semakin terpacu untuk menetapkan langkah dalam menjejal asa.
            Semoga kita semua dapat saling memotivasi satu sama lain. Aku berharap, kita akan tetap menjadi kita. Aku ingin, kita tidak terpecah menjadi aku, kamu, dia, dan dirinya. Aku ingin kita tetap menjadi kita. Ya, KITA.

            Mari kita jaga ukhuwah kita! Marik kita pererat tali shilaturrahiim kita! Mari kita sambung cerita kita! Mari kita wujudkan mimpi dan asa kita!

14 AKAN TETAP MENJADI ‘KITA’, SAMPAI KAPANPUN..!!
^.^
InsyaAllaah, Aamiin.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget